Cerita Gunung Tampomas

Cerita Gunung Tampomas – Tampomalar adalah gunung berapi yang terletak di utara Sumedang (6,77° LS 107,95° BT) di Jawa Barat. Stratovolcano setinggi 1.684 meter juga memiliki sumber air panas.

Menurut kitab Rundayan Tappel Adam dan Babu Hawa, Gunung Tampomas merupakan gunung yang tidak jatuh sama sekali pada masa banjir bandang zaman Nuh, gunung-gunung tersebut adalah: Gunung Siremai, Gunung Agung Tampoma, Gunung Galunggung dan Gunung Burangrang, karena ketika mendunia banjir terjadi. , permukaan laut Gunung Agung Tampomas tidak hanya mencapai puncak Manik Gunung Agarang Tampomas, tetapi juga ketinggian Gunung Karang dan Gunung Kumbang, banyak ditemukan fosil kerang di gunung karang ini di masa lalu. atau, dengan kata lain, Gunung Tampomas adalah salah satu saksi bisu “tanah Ostian Erem” di iklim Sundaland yang sekarang menjadi negara kepulauan (Indonesia).

Cerita Gunung Tampomas

Gunung Tamporasih adalah nama lain dari Gunung Agung Tampoma, disebutkan (tiga kali) dalam teks naratif Buyanga Manik. Dengan kekuatan fenomena alam, Gunung Tampoma benar-benar indah, unik, penuh misteri dan mampu menantang jiwa petualang untuk mengatasi para petualang alam bebas.

Tempat Mistis: Gerbang Gaib Di Kaki Gunung Tampomas

Gunung Tampomas, gunung yang tinggi dan indah yang dapat dilihat di sekitar Sumedang, memang tidak sepopuler gunung lain di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, namun Gunung Tampomas dapat memuaskan para pendaki dengan menunjukkan pesona alamnya yang indah. petualangan di alam, Mynydd Tampomas juga telah menciptakan cerita penuh sejarah.

Pada awal abad ke-3, tujuh wilayah Sumedang masih berupa gurun pasir. Putra-putra Raja Salakanagara mendirikan negara yang disebut Medal Kamulian, di mana Gunung Gede (Tampoma) digunakan sebagai kiblat atau tanda atau simbol atau pusat spiritual. Sumaradira tinggal di daerah pegunungan ini dan menjadi seorang raja bernama Prabu Dhanisvara dan kemudian menjadi seorang biarawan. Selain itu, saudara-saudaranya tersebar dari Gunung Tampoma. – Jaya Sampurna dan Indrasari memerintah di wilayah Gunung Susuru (Csarua – mendiang Tsimalaka Sumedang) dan menetap di selatan – Sukmana (Tampomas Sumedang) yang tinggal di Gunung Chupu – Sari Hatima memerintah di timur. Cieunetung (Kec. Conggeang)) – Cisusuru da Larasakti (Cisarua Sumedang). – Jayabuana Ningrat (Kongeang Sumedang) menguasai wilayah Banas Banten di utara. Raja Salakanagara memiliki tujuh putra, semuanya tidak memiliki istri atau suami (mereka berdiri sendiri), tetapi dihubungkan satu sama lain sebagai simbol pengetahuan, seperti simbol 7 hari dalam seminggu.

Salah satu kerajaan kuno di Tatar Sunda adalah Medang Kahyangan atau Medang Kahyangan. Dibangun sekitar tahun 174 Saka atau sekitar tahun 252 Masehi. di kaki Gunung Tampomas (Tampoma) antara Kecamatan Kongeang dan Kabupaten Buah Dua, Sumedang. Kerajaan ini didirikan oleh seorang resi, keturunan raja kelima Tarumanagara.

Negara ini lahir sebelum Kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Singavarvan pada tahun 355 M. Lambang utara yang mengakui berdirinya kerajaan Tarumanagara adalah Gunung Datar (Datar = Dangiang Tarumanagara) di Kabupaten Sumedang. Ada peringatan di daerah ini yang menghadap ke Gunung Tampomas dan dilanjutkan dengan lahirnya tanah Medang Kamulian oleh Ratu Komara, keturunan Raja Medangati Vretikandayun pada abad ke-6.

Misteri Gunung Tidar Paku Tanah Jawa

Menurut sejarah, orang pertama yang menginjakkan kaki di dataran tinggi Tampomas adalah Prabu Sokavayana, anak dari Prabu Guru Haji Aji Putih, adik dari Prabu Turujimalela. Meskipun waktu pencarian Raja Sokawayana tidak diketahui, sebagian besar sejarawan sepakat mengenai hal ini. Di masa lalu, Prabu Sokavayana memerintahkan ayahnya untuk menjelajahi dataran tinggi Tampoma untuk memperluas pemukiman di sekitar Tampoma.

Dalam prasasti Carita Parahiyangan dan Bujanga Manik terdapat kerajaan yang bernama Medang Kahiyangan (252-290 M) di kaki Gunung Tompo Omas (Tampoma) dan menurut prasasti Bujanga Manik merupakan tempat kedudukan Sumedang Larang. Raja Sumedang Larang (998 – 1114) adalah seorang Tsipameungpeuk yang melihat Prabu Pagulinga sebagai penguasa Kerajaan pada waktu itu. Karena kedua kerajaan tersebut sangat jauh satu sama lain dan tidak memiliki hubungan, maka berdasarkan analisis penyusun, maka keturunan Medang Kahyangan adalah keturunan Devavarman, menantu Prabu Dharma, Satya Jaya Varuna Devavarman; IV, keturunan Sumedang Larang adalah keturunan dari kerajaan Manikmaya, menantu Kenda, Suryawarman, raja ketujuh Tarumanagara, yang kemudian diturunkan dari raja-raja Galuh dan Sunda. Namun sayangnya, sumber sejarah Kerajaan Medang kahyangan/Medang kahyangan tidak banyak diberitakan dalam kisah Parkhayanga atau sumber Tatar Sunda Kuno lainnya.

2. Monumen Sejarah Kerajaan Payajaran di Gunung Tampoma Sejak dahulu kala, Gunung Tampomas diyakini memiliki kekuatan mistik yang kuat, banyak orang beralih ke meditasi (nelmu) seperti Prabu Siliwangi. Selain itu, Gunung Tampomas memiliki situs-situs penuh sejarah pemerintahan kerajaan Tatar Sunda Payajaran. Tempat-tempat ini konon berisi jejak kaki Prabu Siliwangi, pemimpin kerajaan Payajaran, makam keramat Ranggahadi dan istrinya, suami istri yang dianggap sebagai bagian dari keluarga Prabu Siliwangi dan Batu Kasur. Di tempat tidur Prabu Siliwangi, di daerah pegunungan Tampomas.

3. Legenda Gunung Tampomas Pada abad ke-18, tanah Sumedang bergetar mendengar suara gemuruh yang berasal dari Gunung Tampomas, dan dari puncak asap yang bercampur dengan debu yang berapi-api, terlihat bahwa Gunung Tampomas akan segera meletus. meledak. . Setelah mendapat ilham dari sang darwis, Bupati saat itu Pangeran Sumedang, bersama beberapa warga, naik ke puncak Gunung Tampomas (Sangyang Taraye) dan meletakkan kereta emas kesayangannya di kawah. Sementara itu, Gunung Tampomas tenang dan warga bergembira karena Gunung Tampomas terhindar dari letusan. Sejak saat itu, gunung yang semula bernama Gunung Gede berubah menjadi Gunung Tampoma yang berarti “tambang emas”. Dalam bahasa Sunda, tampa berarti “beli” dan mas berarti “emas”.

Cerita Pendaki Gunung Arjuno Jalur Purwosari Penuh Siluman, Berani Lewat?

4. Nama tertinggi Gunung Tampoma adalah Sangyang Taraye, puncak Gunung Tampoma pada ketinggian 1684 meter di atas permukaan laut memiliki nilai estetika yang penting. Di sana Anda dapat melihat luasnya Sumedang, kawah dan gugusan batu hitam yang akan membuat Anda terpesona dan pemandangan Gunung Tampoma yang spektakuler.

5. Gunung Tampoma dalam budaya Naskah kuno Buyanga Manik, yang ditulis pada abad ke-15, berisi gambaran tentang Gunung Tampoma. Hal ini menandakan bahwa Gunung Tampoma sudah dikenal sejak abad tersebut. Seperti gunung-gunung lain yang disebutkan dalam Naskah Buyanga Manik, Gunung Tampoma memiliki sejarah yang panjang dan dalam. Namun sayangnya, sebagian besar sejarawan tidak mau memusingkan Gunung Tampoma.

Kamandalaan di Pasundan adalah tempat suci dan tempat belajar agama dalam agama Thik Sunda dan dipimpin oleh Guru Resi. Kabuyutan berasal dari bahasa Sunda Uyut (ayat atau syair dalam bahasa Arab), yang dapat diartikan sebagai nenek moyang. Istilah ini berasal dari ayah akar tua. Kata ancestor memiliki dua arti: – Pertama, generasi keempat (putih) atau ancestor keempat (parent dari parent). – Kedua, sebagai kadu atau pamali dengan julukan terlarang atau terlarang. Terkadang makna kabuyuta berfungsi sebagai kata sifat. Istilah tersebut mencakup hubungan antar generasi, jangka waktu yang lama, dan hal-hal yang dianggap suci atau sakral. Beberapa spesies sering dianggap sebagai peninggalan leluhur, seperti gong kabuyutan. Ada juga istilah satru kabuyutan yang artinya musuh kabuyutan (musuh mematikan) yang diwariskan dan sulit dikalahkan. Kata ini juga dapat bertindak sebagai kata benda. Dalam pembahasan dalam artikel ini, pengertian kabyuta mengacu pada tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Penampilannya bisa berupa bangunan, tetapi bisa juga berupa ruang terbuka yang ditumbuhi pepohonan. Banten, Distrik Kanekesh di Distrik Retribusi Damar adalah salah satu contoh kabuyuta. Kabyutan sebagai kata benda memiliki arti yang lebih spesifik, yaitu tempat kerja pendeta atau pujangga atau tempat kegiatan keagamaan. Di Kabyutan, orang terpelajar menulis naskah, mengajarkan ilmu agama, atau berdoa. Sebagai tempat untuk kegiatan keagamaan, itu akan menunjukkan salah satu jejak budaya Santana di tingkat Parahyangan. Kadang-kadang disebut mandala. Bagi para filolog, kabuyutan diartikan sebagai scriptorium, tempat pembuatan dan penyimpanan naskah. Contohnya Kabuyutan Ciburuj di kaki Gunung Chikurai, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Kabuyutan terletak 20 kilometer selatan Garut. Kabyutan di Tatar Sunda menciptakan gairah budaya dengan pengenalan agama Buddha. Kuil Kabuyutan sering disebut Kamandalaan atau Mandala. Mandala Sansekerta, secara harfiah berarti “lingkaran”, adalah sebuah konsep India, tetapi dalam konteks Buddhis mengacu pada berbagai “hal-hal nyata”. Di bagian tengah kabayuta atau kamandala merupakan tempat memusatkan pikiran, sehingga dapat digunakan saat meditasi. Pelat kunci biasanya ditempatkan di tengah kabin untuk fokus. Kabuyutan kemudian menjadi tempat belajar agama Buddha, sebagai pesantren pada masa Islam. Mereka yang belajar di pesantren atau pondok pesantren disebut santri. Murid-murid ini belajar untuk mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahantship) dan memainkan peran penting dalam agama Buddha. Seorang siswa yang telah mencapai tingkat Kearahattaan disebut seorang siswa master. Guru Kabuyutan atau Kemandalan disebut Guru. Mereka harus dianggap sebagai guru pergerakan peradaban, dari ketidaktahuan menuju kesadaran dan dari ketidakpedulian menuju tanggung jawab. Dari penjelasan tersebut, siswa harus menunjukkan sikap kesetiaan dan rasa hormat terhadap guru. Peran seorang guru yang dapat menjadikan siswa lebih berilmu dan bertanggung jawab merupakan perbuatan mulia dan harus diabdikan kepada siswa-guru. Tugas siswa kepada guru di lima arah, guru dipandang sebagai arah selatan: menghormati guru dengan berdiri tegak, melayani guru, dedikasi untuk belajar, memberi

Gunung tampomas, gambar gunung tampomas, foto gunung tampomas, indomie tampomas, puncak gunung tampomas, sepatu gunung tampomas, jalur pendakian gunung tampomas, tampomas, tragedi kapal tampomas, gunung tampomas sumedang, ketinggian gunung tampomas, pendakian gunung tampomas

Leave a Reply

Your email address will not be published.